Lagi ngetem jaga di parkiran
sembari mengenang masa 3 atau 4 tahun silam. Saat itu belum kenal manhaj, dan
sedang asyik dalam pencarian, silsilah guru dalam majelis dzikir sufi yang ane
tekuni sanadnya nyambung ke thoriqoh idrisiyah. Pernah diceritakan Syaikh
Al-Akbar pergi umroh, lalu mengabarkan kepada para jama’ah yang ada di
Indonesia bahwasanya beliau bertemu dengan Rasulullah kemudian Rasulullah
menyampaikan salam kepada jama’ah thoriqoh Idrisiyah.
Akhwatnya bercadar, ihkwannya
cingkrang dan ada yang pakai sorban, jidad mereka kebanyakan hitam, masjidnya
penuh waktu dengerin kajian, tapi rame banget karena banyak anak-anak yang
diajak ke kajian, alasannya biar terbiasa dengan masjid daripada main ke mall.
Salah seorang komandan satpam ane
juga beraliran sufi, dari beliau menuntun ane dengan cara berfikir menemukan
kebenaran tanpa taqlid, dari beliau walau beraliran sufi itulah ane terus
mencari.
Alhamdulillah, di Musholla tempat
kerja ada buku-buku bacaan, yang ternyata pengurus musholla tersebut lagi
belajar manhaj salaf, awalnya ane nggak tahu dan benar-benar dalam kebodohan,
yang ane tahu Cuma sesatnya JIL sedang firqoh yang lain belum tahu.
Dari sering baca-baca buku dari
Imam manhaj salaf, sampai datang bertubi-tubi tentang fitnah wahabi dari
******* ********** (nama kelompok pengajian), dari itu mulai bertanya “Ada apa
dengan wahabi ??”
Majelis FB juga berperan dalam
perkembangan pemahaman ane, waktu itu belum tahu kubu masing-masing pihak para
debaters sufi ala *** *******, **** ******, **** ****** dkk (Nama oknum), serta
para takfiri pembela jama’ah *** (Nama kelompok), pun pula dari pihak terfitnah
wahabi, yah sampai ane banyak berteman di FB dengan kalangan ikhwani hamper sampai
masuk ke pemahaman mereka di akhir 2010 ane masih belum sadar, namun tertarik dengan wahabi dan fitnahnya yang banyak di gembar-gomborkan oleh kalangan sufi dan para habib.
Awal
2011 ane serasa buntu, udah berprinsip tak mau lagi hadir dalam majelis
toriqoh Idrisyah, namun tak jua menemukan majelis ilmu yang lain, hanya
hampir di setiap waktu sharing dengan beliau yang terus menuntun dan
mengajak untuk berfikir tentang pemahaman-pemahaman islam yang menjadi
perbincangan panas di dunia nyata maupun dunia maya,
Sesempat waktu pula, setelah pulang dari jam kerja menyempatkan diri
membaca buku-buku koleksi di mushola tempat kerja, lalu dengan seijin
pengurus ane meminjam dan membawanya ke kontrakan.
Mungkin akan di nilai terlalu bodoh atau bagaimana dari awalnya sering menyimak debat fb itu lah pemahaman ini sadar atau tak sadar sudah mulai tertanam dalam fikiran ini, sampai pada akhirnya lits pertemanan fb lebih banyak kepada ikhwan bermanhaj salaf- walau pada dasarnya ane belum sadar benar akan manhaj yang haq ini, yang kemudian ane bisa mengambil hikmah dari hal ini.
Menjelang pertengahan 2011 ane sudah tak lagi di Jakarta, ternyata qodarullah di kampung halaman ini lah ane menyakinkan diri dan mencoba belajar menyandarkan diri kepada manhaj salaf, bermula dari acara keuarga besar dan di sana lah bertemu dengan saudara yang telah lebih dulu mengenal manhaj salaf, ikhwan yang istiqomah di jalan kebenaran, baju gamis celana cingkrang dan jidad yang sedikit menghitam, seseorang yang sederhana- sampai ane menulis ini ikhwan tersebut sudah mempunyai istri yang Alhamdulillah bercadar, walau di terpa banyak gunjigan di belakang bahkan oleh keluarga besar, apalagi jika sedang ada acara keluarga.. haduhh rasa-rasanya telinga ini panas mendengar obrolan mereka yang tanpa pengetahuan sedikit pun tentang sunnah yang sedang di jalankan oleh saudara ana tersebut.
Ane mulai mencari-cari kajian manhaj salaf di sekitar kampung ane, ternnyata masih sedikit sekali-karena blum tahu aja sih- sampai ane mengenal teman fb yang mengajar di ma’had Ibnu abbas wiradesa, dari beliau lah ane mulai membukakan diri belajar manhaj salaf..
Alhamdulillah, hidayah Allah melalui sebuah proses yang ane rasa mudah tapi juga sulit dipahami bagaimana dengan mudahnya pemahaman ini tertanam kuat dalam hati ane, Semoga ane tetap istiqomah dalam manhaj al haq ini, dan semoga hidayahNya selalu menyertai ane.
Hanya sebuah catatan cerita kecil, dari perjalanan hidup yang tak seberapa, mungkin tak menjadi berarti bagi orang lain atau merasa heran. Namun alhmadulillah dari perjalanan singkat tersebut ane terus belajar dan memahami tentang hakikat kehidupan ini.
Mungkin akan di nilai terlalu bodoh atau bagaimana dari awalnya sering menyimak debat fb itu lah pemahaman ini sadar atau tak sadar sudah mulai tertanam dalam fikiran ini, sampai pada akhirnya lits pertemanan fb lebih banyak kepada ikhwan bermanhaj salaf- walau pada dasarnya ane belum sadar benar akan manhaj yang haq ini, yang kemudian ane bisa mengambil hikmah dari hal ini.
Menjelang pertengahan 2011 ane sudah tak lagi di Jakarta, ternyata qodarullah di kampung halaman ini lah ane menyakinkan diri dan mencoba belajar menyandarkan diri kepada manhaj salaf, bermula dari acara keuarga besar dan di sana lah bertemu dengan saudara yang telah lebih dulu mengenal manhaj salaf, ikhwan yang istiqomah di jalan kebenaran, baju gamis celana cingkrang dan jidad yang sedikit menghitam, seseorang yang sederhana- sampai ane menulis ini ikhwan tersebut sudah mempunyai istri yang Alhamdulillah bercadar, walau di terpa banyak gunjigan di belakang bahkan oleh keluarga besar, apalagi jika sedang ada acara keluarga.. haduhh rasa-rasanya telinga ini panas mendengar obrolan mereka yang tanpa pengetahuan sedikit pun tentang sunnah yang sedang di jalankan oleh saudara ana tersebut.
Ane mulai mencari-cari kajian manhaj salaf di sekitar kampung ane, ternnyata masih sedikit sekali-karena blum tahu aja sih- sampai ane mengenal teman fb yang mengajar di ma’had Ibnu abbas wiradesa, dari beliau lah ane mulai membukakan diri belajar manhaj salaf..
Alhamdulillah, hidayah Allah melalui sebuah proses yang ane rasa mudah tapi juga sulit dipahami bagaimana dengan mudahnya pemahaman ini tertanam kuat dalam hati ane, Semoga ane tetap istiqomah dalam manhaj al haq ini, dan semoga hidayahNya selalu menyertai ane.
Hanya sebuah catatan cerita kecil, dari perjalanan hidup yang tak seberapa, mungkin tak menjadi berarti bagi orang lain atau merasa heran. Namun alhmadulillah dari perjalanan singkat tersebut ane terus belajar dan memahami tentang hakikat kehidupan ini.
