Sabtu, 01 Februari 2014

Tujuan Diskusi adalah Mencari Kebenaran Bukan Pembenaran


Tujuan Diskusi adalah Mencari Kebenaran Bukan Pembenaran:

Al-Hafizh Ibnul Jauzi Rohimahulloh berkata:
أن أحدهم يتبين له الصواب مع خصمه ولا يرجع ويضيق صدره كيف ظهر الحق مع خصمه وربما اجتهد في رده مع علمه أنه الحق وهذا من أقبح القبيح لأن المناظرة إنما وضعت لبيان الحق
“Ketika seorang yang paham agama (faqih) mendapati lawannya (dalam berdiskusi) mengemukakan pendapat yang benar, dia tidak mau menarik pendapatnya yang keliru dan hatinya merasa sempit, mengapa lawan debatnya yang benar. Tidak jarang dia berusaha keras membantahnya, meskipun lawannya benar. Sikap demikian termasuk perbuatan yang sangat tercela, karena perdebatan atau diskusi sebenarnya bertujuan untuk menjelaskan kebenaran” (Muntaqo An-Nafis min Talbis Iblis, 131)

Imam Asy-Syafi’I Rohimahulloh berkata:
ما ناظرت أحدا فأنكر الحجة إلا سقط من عيني ولا قبلها إلا هبته وما ناظرت أحدا فباليت مع من كانت الحجة إن كانت معه صرت إليه
“Aku tidak berdebat dengan seseorang lalu dia mengingkari argumenku kecuali hilanglah kedudukan dan kehormatannya, dan tidak menerimanya kecuali aku menghormatinya; dan tidaklah aku berdebat dengan seseorang lalu aku memperhatikan orang berhujjah. Bila hujjahnya benar, maka aku pasti mengikutinya”  (Muntaqo An-Nafis min Talbis Iblis, 131)