Tujuan Diskusi adalah Mencari Kebenaran Bukan Pembenaran:
Al-Hafizh Ibnul Jauzi Rohimahulloh berkata:
أن أحدهم يتبين له الصواب مع خصمه ولا يرجع
ويضيق صدره كيف ظهر الحق مع خصمه وربما اجتهد في رده مع علمه أنه الحق وهذا من
أقبح القبيح لأن المناظرة إنما وضعت لبيان الحق
“Ketika seorang yang paham agama (faqih) mendapati lawannya
(dalam berdiskusi) mengemukakan pendapat yang benar, dia tidak mau menarik
pendapatnya yang keliru dan hatinya merasa sempit, mengapa lawan debatnya yang
benar. Tidak jarang dia berusaha keras membantahnya, meskipun lawannya benar.
Sikap demikian termasuk perbuatan yang sangat tercela, karena perdebatan atau
diskusi sebenarnya bertujuan untuk menjelaskan kebenaran” (Muntaqo An-Nafis min
Talbis Iblis, 131)
Imam Asy-Syafi’I Rohimahulloh berkata:
ما ناظرت أحدا فأنكر الحجة إلا سقط من عيني
ولا قبلها إلا هبته وما ناظرت أحدا فباليت مع من كانت الحجة إن كانت معه صرت إليه
“Aku tidak berdebat dengan seseorang lalu dia mengingkari
argumenku kecuali hilanglah kedudukan dan kehormatannya, dan tidak menerimanya
kecuali aku menghormatinya; dan tidaklah aku berdebat dengan seseorang lalu aku
memperhatikan orang berhujjah. Bila hujjahnya benar, maka aku pasti
mengikutinya” (Muntaqo An-Nafis min
Talbis Iblis, 131)