Sabtu, 30 November 2013
Kendalikan Lisanmu, ke Surga atau Neraka ??
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (yaitu lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (yaitu kemaluan) maka aku akan menjamin surga baginya.” (HR. Al-Bukhari no. 6474)
Bila engkau tidak dapat berkata yang baik, maka diamlah niscaya itu lebih selamat. Karenanya, Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau ia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 6475 dan Muslim)
Al-Imam Al-Hakim rahimahullahu meriwayatkan dalam Mustadrak-nya dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallhu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan ke bibirnya dan berkata:
الصُّمْتُ إِلاَّ مِنْ خَيْرٍ. فَقَالَ لَهُ مُعَاذٌ: وَهَلْ نُؤَاخَذُ بِمَا تَكَلَّمَتْ بِهِ أَلْسِنَتُنَا؟ فَضَرَبَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَخِذَ مُعَاذٍ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُعَاذُ، ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ -أَوْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ مِنْ ذَلِكَ- وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ إِلاَّ مَا نَطَقَتْ بِهِ أَلْسِنَتُهُمْ؟ فَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ عَنْ شَرٍّ، قُوْلُوْا خَيْرًا تَغْنَمُوا وَاسْكُتُوْا عَنْ شَرٍّ تَسْلَمُوْا
“Diamlah kecuali dari perkataan yang baik.” Mu’adz bertanya kepada Rasulullah, “Apakah kita akan disiksa disebabkan apa yang diucapkan oleh lisan-lisan kita?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul paha Mu’adz, kemudian bersabda, “Wahai Mu’adz, ibumu kehilangan kamu”, atau beliau mengucapkan kepada Mu’adz apa yang Allah kehendaki dari ucapan. “Bukankah manusia ditelungkupkan di atas hidung mereka ke dalam jahannam tidak lain disebabkan karena apa yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka? Karenanya, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau ia diam dari berkata yang jelek. Ucapkanlah kebaikan niscaya kalian akan menuai kebaikan dan diamlah dari berkata yang jelek niscaya kalian akan selamat.” (Dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad, 1/460)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menasihatkan,
“Sepantasnya bagi orang yang ingin mengucapkan satu kata atau satu kalimat, ia merenungkan dan memikirkan kata/kalimat tersebut dalam jiwanya sebelum mengucapkannya. Bila memang tampak kemaslahatan dan kebaikannya maka ia berbicara. Bila tidak, maka sebaiknya ia menahan lisannya.” (Al-Minhaj, 18/318)
Wallahu A'lam
--Sulitnya Perkara Ikhlas--
Sufyan
Ats-Tsauri Rohimahulloh berkata ”Saya tidak pernah menghadapi sesuatu
yang lebih berat daripada niat, karena niat itu berbolak-balik
(berubah-ubah)” (Hilyatul Auliya (7/ hal 5 dan 62), lihat Jami’ul ‘Ulul
wal Hikam hal 70, tahqiq Al-Arnauth).
Diriwayatkan dari Sulaiman bin Dawud Al-Hasyimi: ”Terkadang saya menyampaikan sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala saya sampaikan sebagian hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata satu hadits saja membutuhkan banyak niat” Disebutkan oleh Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Tarikh beliau (9/31), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (11/412), dan Ad-Dazahabi dalam Siyar (10/625), lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk beramal ikhlash karena Allah niscaya tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada beramal untuk selain-Nya. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisinya maka tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada ikhlash dan beramal untuk Allah.” [lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 7]
Al-Imam Ibnul Qoyyim Rohimahulloh berkata:
لا يجتمع الاخلاص في القلب ومحبة المدح والثناء والطمع فيما عند الناس الا كما يجتمع الماء والنار
“Tidaklah akan berkumpul keikhlasan dalam hati bersama rasa senang untuk dipuji dan disanjung dan keinginan untuk memperoleh apa yang ada pada manusia kecuali sebagaimana terkumpulnya air dan api…” (Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 423).
Fudhail bin Iyadh berkata:
ترك العمل لأجل الناس رياء والعمل لأجل الناس شرك والإخلاص أن يعافيك الله منهما
“Meninggalkan amal karena manusia itu riya’, sedangkan mengerjakannya karena mereka itu syirik. Ikhlas adalah apabila Allah menjagamu dari keduanya” (Al-Kabair, Al-Imam Adz-Dzahabi)
Semoga Allah memberikan ma’unah kepada kita, juga keikhlasan dalam setiap amal, kata, gerakan dan diamnya kita. Sesunggunya Dia Maha Memberi lagi Maha Pemurah.
Wallahu A’lam
Diriwayatkan dari Sulaiman bin Dawud Al-Hasyimi: ”Terkadang saya menyampaikan sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala saya sampaikan sebagian hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata satu hadits saja membutuhkan banyak niat” Disebutkan oleh Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Tarikh beliau (9/31), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal (11/412), dan Ad-Dazahabi dalam Siyar (10/625), lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk beramal ikhlash karena Allah niscaya tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada beramal untuk selain-Nya. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisinya maka tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada ikhlash dan beramal untuk Allah.” [lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 7]
Al-Imam Ibnul Qoyyim Rohimahulloh berkata:
لا يجتمع الاخلاص في القلب ومحبة المدح والثناء والطمع فيما عند الناس الا كما يجتمع الماء والنار
“Tidaklah akan berkumpul keikhlasan dalam hati bersama rasa senang untuk dipuji dan disanjung dan keinginan untuk memperoleh apa yang ada pada manusia kecuali sebagaimana terkumpulnya air dan api…” (Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 423).
Fudhail bin Iyadh berkata:
ترك العمل لأجل الناس رياء والعمل لأجل الناس شرك والإخلاص أن يعافيك الله منهما
“Meninggalkan amal karena manusia itu riya’, sedangkan mengerjakannya karena mereka itu syirik. Ikhlas adalah apabila Allah menjagamu dari keduanya” (Al-Kabair, Al-Imam Adz-Dzahabi)
Semoga Allah memberikan ma’unah kepada kita, juga keikhlasan dalam setiap amal, kata, gerakan dan diamnya kita. Sesunggunya Dia Maha Memberi lagi Maha Pemurah.
Wallahu A’lam
Berpegang Teguh di atas Sunnah
Rasulullah Sholallahu'alaihi wa sallam bersabda:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
"Saya memberi wasiat kepadamu agar tetap bertaqwa kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan ta'at walaupun yang memerintahmu seorang hamba sahaya (budak). Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian masih hidup niscaya bakal menyaksikan banyak perselisihan. karena itu berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang lurus (mendapat petunjuk) dan gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan jauhilah olehmu hal-hal baru karena sesungguhnya semua bid'ah itu sesat" (HR. Abu Dawud no. 4607)
Al-Zuhri Rahimahulloh berkata:
كان من مضى من علمائنا يقولون : الاعتصام
بالسنة نجاة
“ ulama-ulama kita
terdahulu mengatakan: “ berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan”
(diriwayatan oleh al-Darimi 1/44)
Al-Auza’I Rahimahulloh berkata:
كان يقال : خمس كان عليها أصحاب محمد صلى
الله عليه وسلم والتابعون بإحسان : لزوم الجماعة و اتباع السنة و عمارة المسجد وتلاوة
القرآن والجهاد في سبيل الله
dahulu dikatakan: ada lima perkara para sahabat Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik
berada di atasnya :
1. Selalu bersama jamaah (selalu berjamaah muslimin) (لزوم الجماعة )
2. Mengikuti sunnah ( اتباع السنة )
3. Memakmurkan masjid ( عمارة المسجد )
4. Membaca Al-Quran ( تلاوة القرآن )
5. Berjihad di jalan Allah. ( الجهاد في سبيل الله
)
(Abu Nua’im di kitab hilyatul auliya’: 6/142)
Mathar Al Waraq Rahimahullah mengatakan:
عمل قليل في سنة خير من عمل كثير في بدعة، ومن عمل عملاً في سنة قبل
الله منه عمله. ومن عمل عملاً في بدعة، رد الله عليه بدعته
“Amal sedikit
dalam sunah adalah lebih baik dari pada amal banyak dalam bid’ah, dan barang
siapa yang beramal dalam sunah maka Allah akan menerima amalnya, dan
barangsiapa yang melakukan amal dalam bid’ah, maka Allah akan menolak bid’ahnya
itu.” (Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, 1/424. Mawqi’ Al Warraq)
Wallahu A’lam
Minggu, 03 November 2013
Renungan Tentang Sandal
---- Renungan Tentang Sandal ----
Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Rasulullah
Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
" لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ
كُلَّهَا ، حَتَّى يَسْأَلَهُ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ "
"Hendaklah salah seorang diantara kalian akan
benar-benar memohon kebutuhan kepada Rabnya dalam segala hal, hingga tali
sandal yang putus pun ia akan memohon kepada-Nya." (Musnad Abu Ya’la, no.
3403; Ibnu Hibban no. 866)
Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu, Rasulullah Sholallahu’alaihi
wa sallam bersabda:
الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ
شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِكَ
"Surga itu lebih dekat kepada salah seorang dari kalian
dari tali sandalnya dan neraka pun demikian." (HR. Bukhari no. 6488)
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu’anhu, Rasulullah
Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَقُومُ
السَّاعَةُ حَتَّى تُكَلِّمَ السِّبَاعُ الْإِنْسَ وَحَتَّى تُكَلِّمَ الرَّجُلَ عَذَبَةُ
سَوْطِهِ وَشِرَاكُ نَعْلِهِ وَتُخْبِرَهُ فَخِذُهُ بِمَا أَحْدَثَ أَهْلُهُ مِنْ بَعْدِهِ
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, tidaklah
kiamat terjadi hingga binatang-binatang buas berbicara kepada manusia, hingga
ujung cambuknya, tali sendalnya berbicara pada orang dan hingga lututnya
memberitahukan padanya apa yang dilakukan keluarganya sepeninggalnya."
(HR. Tirmidzi no. 2181 )
Abu Bakar Radhiallahu’anhu berkata:
كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ
وَالْمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ
“Setiap jiwa bangun di pagi hari pada keluarganya, padahal
kematian lebih dekat dari tali sandalnya” (Shohih Bukhari no. 1889)
Wallahu A’lam
Langganan:
Postingan (Atom)
