Sufyan
Ats-Tsauri Rohimahulloh berkata ”Saya tidak pernah menghadapi sesuatu
yang lebih berat daripada niat, karena niat itu berbolak-balik
(berubah-ubah)” (Hilyatul Auliya (7/ hal 5 dan 62), lihat Jami’ul ‘Ulul
wal Hikam hal 70, tahqiq Al-Arnauth).
Diriwayatkan dari Sulaiman bin Dawud Al-Hasyimi: ”Terkadang saya menyampaikan sebuah hadits dan niat saya ikhlas, (namun) tatkala
saya sampaikan sebagian hadits tersebut berubahlah niat saya, ternyata
satu hadits saja membutuhkan banyak niat” Disebutkan oleh Al-Khotib
Al-Bagdadi dalam Tarikh beliau (9/31), Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal
(11/412), dan Ad-Dazahabi dalam Siyar (10/625), lihat Jami’ul ‘Ulum wal
Hikam hal 83, tahqiq Al-Arnauth).
Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk beramal ikhlash
karena Allah niscaya tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada
beramal untuk selain-Nya. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya
untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisinya maka tidak ada sesuatu yang
lebih berat baginya daripada ikhlash dan beramal untuk Allah.” [lihat
Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 7]
Al-Imam Ibnul Qoyyim Rohimahulloh berkata:
لا يجتمع الاخلاص في القلب ومحبة المدح والثناء والطمع فيما عند الناس الا كما يجتمع الماء والنار
“Tidaklah akan berkumpul keikhlasan dalam hati bersama rasa senang
untuk dipuji dan disanjung dan keinginan untuk memperoleh apa yang ada
pada manusia kecuali sebagaimana terkumpulnya air dan api…” (Fawaid
Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, hal 423).
Fudhail bin Iyadh berkata:
ترك العمل لأجل الناس رياء والعمل لأجل الناس شرك والإخلاص أن يعافيك الله منهما
“Meninggalkan amal karena manusia itu riya’, sedangkan mengerjakannya
karena mereka itu syirik. Ikhlas adalah apabila Allah menjagamu dari
keduanya” (Al-Kabair, Al-Imam Adz-Dzahabi)
Semoga Allah memberikan ma’unah kepada kita, juga keikhlasan dalam
setiap amal, kata, gerakan dan diamnya kita. Sesunggunya Dia Maha
Memberi lagi Maha Pemurah.
Wallahu A’lam