Selasa, 31 Desember 2013

Iblis Tak Pernah Tidur

Apakah Iblis itu tidur

Iblis La’natulloh ‘alayhi berkata:
رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan” (Q.S Al-Hijr: 36)

Allah ‘Azza wa Jalla menjawab:
فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ
"(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan" (Q.S Al-Hijr: 37-38)
Ada seorang laki-laki pernah bertanya kepada Al Hasan Al Bashri:
أينام إبليس ؟
'Apakah Iblis Tidur ?' 

Beliau menjawab:
لونام لوجدنا راحة
'Kalau seandainya dia tidur niscaya kita dapat beristirahat dari godaannya'. [Al Muntaqoo An Nafiis min Talbiis Ibliis hal. 62]

Wallahu A’lam

Kesalahan Pemahaman Tentang Nabi ‘Isa ‘alayhissalam

Kesalahan Pemahaman Tentang Nabi ‘Isa ‘alayhissalam

“dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa” (QS. An-Nisaa: 157)

Ibnu Abbas Radhiallahu'anhuma mengatakan:
لما أراد الله أن يرفع عيسى إلى السماء خرج على أصحابه وفي البيت إثناعشر رجلا من الحواريين يعني فخرج عليهم من عين في البيت ورأسه يقطر ماء فقالك إن منكم من يكفر بي إثني عشر مرة بعد أن آمن بي
Ketika Allah hendak mengangkat 'Isa ke langit, maka 'Isa keluar untuk menemui para sahabatnya dari kalangan Hawariyyin yang jumlahnya ada 12 orang. yang dimaksud ialah isa keluar dari mata air yang ada dalam rumah tersebut, sedangkan kepalanya masih meneteskan air, lalu ia berkata: "Sesungguhnya di antara kalian ada orang yang kafir kepadaku sebanyak 12 kali sesudah ia beriman kepadaku".

قال ثم قال أيكم يلقى عليه شبهي فيقتل مكاني ويكون معي في درجتي
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa 'Isa berkata pula, "Siapakah di antara kalian yang mau dijadikan sebagai orang yang serupa denganku, lalu ia akan dibunuh sebagai gantiku, maka kelak dia akan bersamaku dalam satu tingkatan ?"

فقام شاب من أحدثهم سنا فقال له اجلس ثم أعاد عليهم فقام ذلك الشاب فقال اجلس ثم أعاد عليهم فقام الشاب فقال أنا فقال هو أنت ذاك فألقى عليه شبه عيسى ورفع عيسى من روزنة في البيت إلى السماء
Maka berdirilah seorang pemuda yang paling muda usianya di antara yang ada, lalu 'Isa berkata kepadanya, "Duduklah kamu". Kemudian ia mengulangi lagi kata-katanya itu, maka pemuda itu juga yang berdiri seraya berkata, "Aku bersedia". Akhirnya 'Isa berkata, "Kalau memang demikian, kamulah orangnya". Maka Allah menjadikannya serupa dengan Nabi 'Isa, sedangkan Nabi 'Isa sendiri diangkat ke langit dari salah satu bagian atap rumah tersebut.

قال وجاء الطلب من اليهود فأخذوا الشبه فقتلوه ثم صلبوه فكفر به بعضهم اثني عشر مرة بعد أن آمن به وافترقوا ثلاث فرق
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu orang-orang Yahudi yang memburunya datang dan langsung menangkap orang yang serupa dengan 'Isa itu, lalu mereka membunuh dan menyalibnya. Maka sebagian dari mereka kafir kepada 'Isa sebanyak 12 kali sesudah ia beriman kepadanya, dan mereka berpecah belah menjadi 3 golongan:

فقالت فرقة كان الله فينا ما شاء ثم صعد إلى السماء وهؤلاء اليعقوبية وقالت فرقة كان فينا ابن الله ما شاء ثم رفعه الله إليه وهؤلاء النسطورية وقالت فرقة كان فينا عبد الله ورسوله ما شاء الله ثم رفعه الله إليه وهؤلاء المسلمين فتظاهرت الكافرتانعلى المسلمة فقتلوها فلم يزل الإسلام طامسا حتى بعث الله محمدا صلى الله عليه وسلم
Suatu golongan dari mereka mengatakan, "Dahulu Allah beradda di antara kita, kemudian naik ke langit". Mereka yang berkeyakinan demikian adalah sekte Ya'qubiyah.
Segolongan lain mengatakan, "Dahulu anak Allah ada bersama kami selama yang dikehendaki-Nya, kemudian Allah mengangkatnya kepada-Nya". Mereka yang berkeyakinan demikian dari sekte Nasturiyah.
Segolongan lain mengatakan, "Dahulu hamba dan utusan Allah ada bersama kami selama masa yang dikehendaki oleh Allah, kemudian Allah mengangkat dia kepada-Nya". Mereka yang berkeyakinan demikian adalah orang-orang Muslim.
Kemudian 2 golongan kafir itu memerangi golongan yang Muslim dan membunuhnya, maka Islam dalam keadaan terpendam hingga Allah mengutus Nabi Muhammad Sholallahu'alaihi wa sallam.

Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata: Atsar ini shahih sampai kepada Ibnu Abbas.

Wallahu A'lam

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir

Jangan Mencela Orang Sholeh


Jangan Mencela Orang Sholeh:

Malik bin Dinar Rahimahulloh berkata:
كفى بالمرء شرا ألا يكون صالحا وهو يق؛ع في الصالحين
“Cukuplah kejahatan bagi seseorang yang menunjukkan dia bukan orang saleh tatkala dia merendahkan orang saleh” (Syu’abul Iman al-Baihaqi (5/316))

Abdullah bin Mubarak Rahimahulloh berkata:
من استخف بالعلماء ذهبت آخرته ومن استخف بالأمراء ذهبت دنياه ومن استخف بالإخوان ذهبت مروءته
“Barangsiapa merendahkan ulama maka hilang akhiratnya, dan barangsiapa merendahkan penguasa maka hilang dunianya, dan barangsiapa yang merendahkan saudaranya maka hilang harga dirinya” (Siyar A'lami An-Nubala 8/408)

Al-Imam Adz-Dzahabi Rahimahulloh berkata:
ولو أن كل من أخطأ في اجتهاده مع صحة إيمانه وتوخيه لاتباع الحق أهدرناه وبدعناه لقل من يسلم من الأئمة
"Kalau saja setiap orang yang keliru dalam ijtihad, sementara keimamannya benar dan selalu berusaha mengikuti kebenaran, kemudian kita "habisi" dia dan kita nyatakan bahwa ia adalah ahlul bida', maka sangat sedikit imam (para ulama) yang akan selamat." (Siyar A'lam an-Nubalaa', XIV/376)

Jaga Lisan Kita dalam berucap, jaga jari kita dalam menulis.

Wallahu A'lam

Nasehat Ahli Zuhud

Nasehat Ahli Zuhud:

Sebagian orang yang zuhud berkata:
ما علمت أن أحدا سمع بالجنة والنار تأتي عليه ساعة لا يطيع الله فيها بذكر أو بصلاة أو قراءة أو احسان
“Aku tidak pernah mengetahui ada seorang yang mendengar tentang surga dan neraka kemudian waktu yang dia miliki tidak dia gunakan untuk mentaati Alloh, berdzikir, sholat, membaca al-Qur’an atau berbuat baik.”

Lalu seorang lelaki berkata kepadanya:
اني أكثر البكاء
“Sesungguhnya aku banyak menangis.”

Orang zuhud tadi berkata:
انك ان تضحك وأنت مقر بخطيئتك خير من أن تبكي وأنت مدل بعملك, فان المدل لا يصعد عمله فوق رأسه
“Sesungguhnya jika engkau tertawa sedangkan engkau mengakui kesalahanmu, maka hal itu lebih baik dari pada engkau menangis namun engkau mengungkit-ungkit amalanmu. Karena orang yang suka mengungkit amalannya, maka amalannya tidak akan naik melampaui kepalanya.”

Maka lelaki tadi berkata:
أوصني
“Berikanlah aku nasihat.”

Orang zuhud itu berkata:
دع الدنيا لأهلها كما تركوا هم الآخرة لأهلها, وكن في الدنيا كالنحلة, ان أكلت طيبا, وان أطعمت أطعمت طيبا, وان سقطت على شيئ لم تكسره ولم تخدشه
“Tinggalkanlah dunia untuk ahli dunia, sebagaimana mereka meninggalkan akhirat untuk ahli akhirat. Jadilah engkau di dunia ini seperti lebah, jika engkau makan, engkau makan sesuatu yang baik, jika engkau memberi makan, engkau memberi makan sesuatu yang baik dan jika engkau jatuh di suatu tempat, engkau tidak akan merusak dan merobeknya.

(Al-Fawa'id lil Imam Ibnul Qoyyim Rahimahulloh)

Lau Kaana Khoyron, Lasabaquwnaa ilayhi

Lau Kaana Khoyron, Lasabaquwnaa ilayhi

Hudzaifah Ibnul Yaman Rodhiallohu’anhu berkata:
“Setiap ibadah yang tidak pernah dilakukan sahabat Nabi, maka selamanya tidak bisa dianggap ibadah, karena generasi awal tidak meninggalkan untuk generasi terakhir kesempatan berbicara tentang syari’at. Maka bertaqwalah wahai pembaca Al-Qur’an dan ambillah jalan orang sebelum kalian” (al-baits Ala Inkaril Bida’  wal Hawadits, Abu Syamah hal. 26)

Abdullah bin Ad-Dailami Rahimahulloh berkata:
أَوَّلَ ذَهَابِ الدِّينِ تَرْكُ السُّنَّةِ، يَذْهَبُ الدِّينُ سُنَّةً سُنَّةً، كَمَا يَذْهَبُ الْحَبْلُ قُوَّةً قُوَّةً
"Telah sampai (kabar) kepadaku bahwa yang paling pertama dari masalah agama yang ditinggalkan adalah sunnah, agama ini akan hilang sunnahnya satu persatu sebagaimana terputusnya seutas tali sedikit demi sedikit" (Sunan Darimi, no. 98)

Hassan ibnu ‘Athiyyah Rohimahulloh berkata:
مَا ابْتَدَعَ قَوْمٌ بِدْعَةً فِي دِينِهِمْ إِلَّا نَزَعَ اللَّهُ مِنْ سُنَّتِهِمْ مِثْلَهَا ثُمَّ لَا يُعِيدُهَا إِلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
" Tidaklah suatu kaum membuat satu bid`ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhaanallahu wa Ta'ala akan mencabut dari sunnah mereka seperti bagian bid`ah (yang mereka perbuat) kemudian Dia tidak mengembalikan lagi sunnah tersebut sampai hari kiamat". (Sunan Darimi, no. 99) 

Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata:
واما أهل السنة والجماعة فيقولون في كل فعل وقول لم يثبت عن الصحابة رضي الله عنه هو بدعة لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه لأنهم لم يتركوا خصلة من خصال الخير إلا بادروا إليها
“Dan adapun ahlus sunnah wal jama’ah maka mereka mengatakan bahwa dalam setiap perbuatan dan perkataan yang tidak ada ketetapan dari sahabat Radhiallahu’anhu, maka dia adalah bid’ah karena sesungguhnya Andaikan itu baik tentulah mereka mendahului kita dalam melakukan itu, karena mereka tidaklah meninggalkan kebiasaan dari perbuatan baik kecuali mereka bersegera melakukannya” (Tafsir Ibnu Katsir) 

Wallahu A’lam