Lau Kaana Khoyron, Lasabaquwnaa ilayhi
Hudzaifah Ibnul Yaman Rodhiallohu’anhu berkata:
“Setiap ibadah yang
tidak pernah dilakukan sahabat Nabi, maka selamanya tidak bisa dianggap ibadah,
karena generasi awal tidak meninggalkan untuk generasi terakhir kesempatan
berbicara tentang syari’at. Maka bertaqwalah wahai pembaca Al-Qur’an dan
ambillah jalan orang sebelum kalian” (al-baits Ala Inkaril Bida’ wal Hawadits, Abu Syamah hal. 26)
Abdullah bin
Ad-Dailami Rahimahulloh berkata:
أَوَّلَ ذَهَابِ الدِّينِ تَرْكُ السُّنَّةِ،
يَذْهَبُ الدِّينُ سُنَّةً سُنَّةً، كَمَا يَذْهَبُ الْحَبْلُ قُوَّةً قُوَّةً
"Telah sampai
(kabar) kepadaku bahwa yang paling pertama dari masalah agama yang ditinggalkan
adalah sunnah, agama ini akan hilang sunnahnya satu persatu sebagaimana
terputusnya seutas tali sedikit demi sedikit" (Sunan Darimi, no. 98)
Hassan ibnu ‘Athiyyah Rohimahulloh berkata:
مَا ابْتَدَعَ قَوْمٌ بِدْعَةً فِي دِينِهِمْ
إِلَّا نَزَعَ اللَّهُ مِنْ سُنَّتِهِمْ مِثْلَهَا ثُمَّ لَا يُعِيدُهَا
إِلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
"
Tidaklah suatu kaum membuat satu bid`ah dalam agama mereka melainkan Allah
Subhaanallahu wa Ta'ala akan mencabut dari sunnah mereka seperti bagian bid`ah
(yang mereka perbuat) kemudian Dia tidak mengembalikan lagi sunnah tersebut
sampai hari kiamat". (Sunan Darimi, no. 99)
Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata:
واما أهل السنة والجماعة
فيقولون في كل فعل وقول لم يثبت عن الصحابة رضي الله عنه هو بدعة لأنه لو كان خيرا
لسبقونا إليه لأنهم لم يتركوا خصلة من خصال الخير إلا بادروا إليها
“Dan adapun ahlus sunnah wal jama’ah maka mereka mengatakan
bahwa dalam setiap perbuatan dan perkataan yang tidak ada ketetapan dari
sahabat Radhiallahu’anhu, maka dia adalah bid’ah karena sesungguhnya Andaikan
itu baik tentulah mereka mendahului kita dalam melakukan itu, karena mereka
tidaklah meninggalkan kebiasaan dari perbuatan baik kecuali mereka bersegera
melakukannya” (Tafsir Ibnu Katsir)
Wallahu A’lam