Alasan Mengikuti Tradisi Nenek Moyang Adalah Alasan “Klasik”:
“Apabila dikatakan
kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti
Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati
bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti
nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa
dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al-Ma’idah: 104)
Ketika Nabi Nuh ‘Alaihissalam mendakwahkan Tauhid kepada
kaumnya, namun mereka menentang:
“Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya
menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang
bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah
menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami
mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu”
(QS. Al-Mukminun: 24)
Nabi Hud ‘Alayhissalam juga mendakwahkan kaumnya untuk
mentauhidkan Allah, namun juga ditentang oleh kaumnya:
“Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami, agar
kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh
bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika
kamu termasuk orang-orang yang benar” (QS. Al-A’roof: 70)
Nabi Sholeh ‘Alayhissalam juga mendakwahi kaumnya, namun
juga ditentang:
“Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum
ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami
untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ? dan sesungguhnya kami
betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan
kepada kami” (QS. Huud: 62)
Nabi Ibrahim ‘Alayhissalam juga mendakwahkan Tauhid kepada
kaumnya, namun mereka beralasan:
“Mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya kami
mendapati nenek moyang kami berbuat demikian” (Asy-Syuaroo: 74)
Begitu juga Nabi Syu’aib ‘Alayhissalam, juga ditentang
kaumnya:
“Mereka berkata: “Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh
kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau
melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami.
Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal” (QS. Huud:
87)
Nabi Musa dan Harun ‘Alaihimassalam mendakwahkan Fir’aun,
namun mereka juga menentang:
“Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami untuk
memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya,
dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan
mempercayai kamu berdua” (QS. Yunus: 78)
Dan lain sebagainya, Wallahu A’lam