Sabtu, 01 Februari 2014

Alasan Mengikuti Tradisi Nenek Moyang Adalah Alasan “Klasik”


Alasan Mengikuti Tradisi Nenek Moyang Adalah Alasan “Klasik”:

 “Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al-Ma’idah: 104)

Ketika Nabi Nuh ‘Alaihissalam mendakwahkan Tauhid kepada kaumnya, namun mereka menentang:
“Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu” (QS. Al-Mukminun: 24)

Nabi Hud ‘Alayhissalam juga mendakwahkan kaumnya untuk mentauhidkan Allah, namun juga ditentang oleh kaumnya:
“Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar” (QS. Al-A’roof: 70)

Nabi Sholeh ‘Alayhissalam juga mendakwahi kaumnya, namun juga ditentang:
“Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami” (QS. Huud: 62)

Nabi Ibrahim ‘Alayhissalam juga mendakwahkan Tauhid kepada kaumnya, namun mereka beralasan:
“Mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian” (Asy-Syuaroo: 74)

Begitu juga Nabi Syu’aib ‘Alayhissalam, juga ditentang kaumnya:
“Mereka berkata: “Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal” (QS. Huud: 87)

Nabi Musa dan Harun ‘Alaihimassalam mendakwahkan Fir’aun, namun mereka juga menentang:
“Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua” (QS. Yunus: 78)

Dan lain sebagainya, Wallahu A’lam