Sabtu, 01 Februari 2014

Hadits-hadits Dasar yang Perlu dihafal


Imam Ahmad bin Hanbal Rohimahulloh berkata:
أصول الإسلام على ثلاثة أحاديث حديث عمر إنما الأعمال بالنيات وحديث عائشة من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد وحديث النعمان بن بشير الحلال بين والحرام بين
Pokok Islam terdapat dalam 3 hadits, yaitu hadits dari Umar yang berbunyi “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya”, kemudian hadits ‘Aisyah yang berbunyi “Barangsiapa yang mengadakan hal baru dalam urusan agama kami yang bukan dari kami, maka ia tertolak”, dan hadits dari Nu’man bin Basyir yang berbunyi “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu pun jelas””. (Lih. Jami’ul Ulumul Hikam, hal 21, cet: Dar Ibnul Jauzy)

Ishaq bin Rohawaih Rahimahulloh berkata:
“Empat hadits yang darinya terdapat pokok-pokok Agama, yaitu hadits yaitu hadits dari Umar yang berbunyi “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya”, kemudian hadits yang berbunyi “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu pun jelas” , lalu hadits yang berbunyi “Sesungguhnya seseorang dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya”, kemudian hadits “Barangsiapa yang mengadakan hal baru dalam urusan agama kami yang bukan dari kami, maka ia tertolak””. (Lih. Jami’ul Ulumul Hikam, hal 21, cet: Dar Ibnul Jauzy)

Dalam suatu riwayat, Imam Abu Dawud Rahimahulloh berkata:
الفقه يدور على خمسة أحاديث الحلال بين والحرام بين وقوله صلى الله عليه وسلم لا ضرر ولا ضرار وقوله إنما الأعمال بالنيات وقوله الدين النصيحة وقوله ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فائتوا منه ما استطعتم
“Fiqh itu berputar di atas 5 hadits: Hadits yang berbunyi “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu pun jelas”. Hadits Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam yang berbunyi “Tidak boleh membahayakan (orang lain) dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya”. Kemudian hadits yang berbunyi “Setiap amal tergantung niatnya”, lalu hadits yang berbunyi “Agama itu adalah nasehat”. Dan hadits Beliau yang berbunyi “Apa saja yang aku larang maka jauhilah, dan apa saja yang aku perintahkan, maka lakukanlah semampu kalian”. (Lih. Jami’ul Ulum wa Al-Hikam, hal 22, cet: Dar Ibnul Jauzy)

Wallahu A'lam

Persatuan Adalah Rahmat


Dari Nu’man bin Basyir Radhiallahu’anhu, Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
 “Persatuan adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab.” (HR. Ahmad; dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 667)

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS. Ali ‘Imron: 103)

‘Ali Radhiallahu’anhu berkata:
اقْضُوا كَمَا كُنْتُمْ تَقْضُونَ فَإِنِّي أَكْرَهُ الِاخْتِلَافَ حَتَّى يَكُونَ لِلنَّاسِ جَمَاعَةٌ أَوْ أَمُوتَ كَمَا مَاتَ أَصْحَابِي
"Putuskanlah sebagaimana biasa kalian memutuskan perkara, karena aku tidak suka perbedaan pendapat sehingga semua manusia berada dalam kesepakatan, atau aku mati (diatas prinsip persatuan) sebagaimana para sahabatku mati" (Riwayat Bukhari no. 3707)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, Rasulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ و حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ سُهَيْلٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا وَلَمْ يَذْكُرْ وَلَا تَفَرَّقُوا
“Sesungguhnya Allah menyukai bagimu tiga perkara dan membenci tiga perkara; Dia menyukai kalian supaya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah belah. Dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim no. 175)

Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahulloh berkata:
وقد ضمنت لهم العصمة عند اتفاقهم من الخطأ كما وردت بذلك الأحاديث المتعددة أيضا وخيف عليهم الإفتراق والإختلاف فقد وقع ذلك في هذه الأمة فافترقوا على ثلاث وسبعين فرقة منها فرقة ناجية إلى الجنة ومسلمة من عذاب النار وهم الذين على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه
“Bilamana mereka hidup dalam persatuan dan kesatuan, niscaya terjaminlah mereka dari kekeliruan, seperti yang disebutkan oleh banyak hadits mengenai hal tersebut. Sangat dikhawatirkan bila mereka bila mereka bercerai-berai dan bertentangan. Hal ini ternyata menimpa umat ini, hingga tercerai-berailah mereka menjadi 73 golongan. Diantaranya terdapat suatu golongan yang selamat masuk surge dan diselamatkan dari siksa neraka. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jejak yang telah dilakukan oleh Nabi Sholallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya” (Tafsir Ibnu Katsir) 

Wallahu A’lam

Alasan Mengikuti Tradisi Nenek Moyang Adalah Alasan “Klasik”


Alasan Mengikuti Tradisi Nenek Moyang Adalah Alasan “Klasik”:

 “Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al-Ma’idah: 104)

Ketika Nabi Nuh ‘Alaihissalam mendakwahkan Tauhid kepada kaumnya, namun mereka menentang:
“Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: "Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu” (QS. Al-Mukminun: 24)

Nabi Hud ‘Alayhissalam juga mendakwahkan kaumnya untuk mentauhidkan Allah, namun juga ditentang oleh kaumnya:
“Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar” (QS. Al-A’roof: 70)

Nabi Sholeh ‘Alayhissalam juga mendakwahi kaumnya, namun juga ditentang:
“Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami ? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami” (QS. Huud: 62)

Nabi Ibrahim ‘Alayhissalam juga mendakwahkan Tauhid kepada kaumnya, namun mereka beralasan:
“Mereka menjawab: "(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian” (Asy-Syuaroo: 74)

Begitu juga Nabi Syu’aib ‘Alayhissalam, juga ditentang kaumnya:
“Mereka berkata: “Hai Syu'aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal” (QS. Huud: 87)

Nabi Musa dan Harun ‘Alaihimassalam mendakwahkan Fir’aun, namun mereka juga menentang:
“Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua” (QS. Yunus: 78)

Dan lain sebagainya, Wallahu A’lam


Tujuan Diskusi adalah Mencari Kebenaran Bukan Pembenaran


Tujuan Diskusi adalah Mencari Kebenaran Bukan Pembenaran:

Al-Hafizh Ibnul Jauzi Rohimahulloh berkata:
أن أحدهم يتبين له الصواب مع خصمه ولا يرجع ويضيق صدره كيف ظهر الحق مع خصمه وربما اجتهد في رده مع علمه أنه الحق وهذا من أقبح القبيح لأن المناظرة إنما وضعت لبيان الحق
“Ketika seorang yang paham agama (faqih) mendapati lawannya (dalam berdiskusi) mengemukakan pendapat yang benar, dia tidak mau menarik pendapatnya yang keliru dan hatinya merasa sempit, mengapa lawan debatnya yang benar. Tidak jarang dia berusaha keras membantahnya, meskipun lawannya benar. Sikap demikian termasuk perbuatan yang sangat tercela, karena perdebatan atau diskusi sebenarnya bertujuan untuk menjelaskan kebenaran” (Muntaqo An-Nafis min Talbis Iblis, 131)

Imam Asy-Syafi’I Rohimahulloh berkata:
ما ناظرت أحدا فأنكر الحجة إلا سقط من عيني ولا قبلها إلا هبته وما ناظرت أحدا فباليت مع من كانت الحجة إن كانت معه صرت إليه
“Aku tidak berdebat dengan seseorang lalu dia mengingkari argumenku kecuali hilanglah kedudukan dan kehormatannya, dan tidak menerimanya kecuali aku menghormatinya; dan tidaklah aku berdebat dengan seseorang lalu aku memperhatikan orang berhujjah. Bila hujjahnya benar, maka aku pasti mengikutinya”  (Muntaqo An-Nafis min Talbis Iblis, 131)

Jangan Ada Dusta dalam Canda


Jangan ada Dusta dalam Canda

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu ,dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ فَإِنَّكَ تُدَاعِبُنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا
"Aku tidak berkata kecuali kebenaran, " sebagian sahabatnya berkata; "Sesungguhnya engkau bercanda dengan kami wahai Rasulullah, " maka beliau bersabda: "Aku tidak berkata kecuali kebenaran." (HR. Ahmad)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ الْقَوْمَ ثُمَّ يَكْذِبُ لِيُضْحِكَهُمْ وَيْلٌ لَهُ وَوَيْلٌ لَهُ
"Celakalah orang yang berbicara kemudian berbohong agar orang lain mentertawakannya, celakalah dia, celakalah dia." (HR. Ahmad; Abu Dawud no. 4990; at-Tirmidzi no. 2315)

Dari Abu Umamah ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
"Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau, Dan aku juga menjamin rumah di syurga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik." (HR. Abu Dawud no. 4800)

Ibnu Mas’ud Rodhiallahu’anhu berkata:
لا يزال العبد يكذب ويتحرى الكذب حتى ينكت في قلبه نكتة سوداء حتى يسود قلبه فيكتب عند الله من الكاذبين
“Seseorang itu akan terus-menerus berdusta dan mencari-cari cara untuk berdusta sampai satu titik hitam dititikkan di hatinya. Demikian sampai hitam seluruh hatinya dan ia ditulis di sisi Allah sebagai salah seorang pendusta” (Al-Kaba’ir; Imam Adz-Dzahabi)

’Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Sebesar-besar kesalahan di sisi Allah adalah lisan yang suka berdusta dan seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan pada hari kiamat.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/138])

Wallahu A’lam